Ada yg bisa diceritakan ke mereka.
Begini:
Waktu masih kerja di bilangan Senen, saya punya langganan, Soto Ayam, dimana dg pertimbangan kalau siang makan soto ayam, artinya sdh ada ayam, tomat, sayuran n nasi, jadi bisa dikatakan dg pengetahuan yg ada berearti sdh cukup baik, tinggal tambahkan buah seperti pisang ambon atau lainya.
Juga kalau soto pasti airnya mendidih jadi kuman pada mati kalau ada sekelumit sarmonela yg rela berpanas2an dlm kuah ayam tadi ya bisa say goodbye kepada mereka.
Saking setianya sama si Soto , sampai saya dapat jatah lebih kepala ayam, 2 -3 kepala setiap makan siang.
Menurut saya ya itu namanya berkat, karena dapat tambahan daging tanpa harus ekstra keluar uang bukan.
Suatu ketika saya menengok kedalam wadah dandang besar tempat memsak kuah ayam n dagingnya, lalu tanpa sengaja saya menemukan lalat hijau yg besar2 ada sekitar 5 ekor sdh menjadi bangkai n ikutan direbvus dlm kuah ayam tesrebut
Nah2, sejak itu besoknya saya tdk makan disitu lagi.
Inilah persolan penjual makanan di Negri kita ini yg tanpa pengawasan.
Cerita lain adalah:
Ketika di proyek Senen, ada yg menjual Cak kwe yg montok, bagus merangsang dlm bentuknya; hampir saya beli karena itung2 sdh lama ndak makan cak kwe asin, nahk repotnya sdh mengerti bahwa cakkwe dlm komposisi digunakan amonia utk membuatnya bagus, jadi ya tahan hati utk tdk membelinya.
Tak berapa lama, karena ank ingin ke WC, ya kita pergilah kesana.
Disebla WC ada ruangan yg mau dikatakn bersih ya tdk kelihatan tapi jelas diseblah WC persis, agak gelap, tdk cukup penerangan n lantainya beck banget dg air yg agak kental n berwarna hitam; maklum orang lalu n lalng ke n dari sana.
Nah persis dismaping WC itu ada kompor yg menyala n ada yg sednag membuat Cak kwe disana.
Luar biasa kaerna ternyata penjual Cak Kwe yg sama yg tadi ketemu diluar, dapurnya atau tempat pembuatanya terletak persis disamping WC.
Laua apakah terkontaminasi?
Wah ndak nunggu lama jadi ndfak tau airnyadimabil dari mana? apakah dari WC?
Bagaimana bila menggoreng n ada yg jatuh, juga tdk tau.
Tapi yg jelas sejak waktu itu anak saya tdk pernah lagi beli Cak Kwe.
Masih cerita yg ke 3:
Saya makan di resto Chinese food, ada bebk panggang n ayam serta daging yg lain.
Saya minta dibungkuskan nasi campur ala sang hay, pikri kana lengkap ada berbagai daging plus telor n sayuran serta timun.
Tiba2 sambil menunggu terjadilah peristiwa, sang daging loncat dari meja potong n jatuh ketanah / lantai tempat dia biasa injak sana sini, daging diambil, di sapu2 dg tangan, di bersihkan dg celemknya, n ditaruh kembali dlm wadah di etalase.
nah bagus bukan? artinya bila kita tdk melihat sendiri kejadian tersebut kita akan berpikir makanan tadi bersih n layak dimakan, tapi ternyata???
Maka biasakan walau makanan berasal dari resto terkenal, atau warung, panaskan dulu lagi bisa di panggang, bisa di microwave, bisa dikukus, atau kalau itu tumisan, ya ditumis dulu.
Bila anak diajarkan memanaskan dulu makannya maka dg sendirinya dijalan kan ndak bisa panas makanan???
Jadi mau n tdk akan makan dirumah bukan?
Sallam,