Hello,
Secara teoritis, makanan yg masuk tdk dg serta merta bisa dicerna n lalu bisa digunkan seibaratnya bensin yg dimasukan ke tangki bensin mobil lalu tinggal crekj jreng mobilnya hidup.
Manusia mempunyai karakteristik masing2, yg sangat terkait dg berbagai hal antara keterkaitan berbagai enzym, bacteria usus, n kondisi pencernaan ybs.
Banayk makanan yg bagi sementara org sehat, bagi yg lainya belum tentu sehat, demikian juga dg susu yg dlm pelajaran kesehatan kita dianggab menjadikanya sempurna, bisa menimbulkan ketidak sempurnaan bagi sementara org tertentu.
Jadi menentukan baik tdknya suatu makanan, atau suatu komposisi makanan akan sangat bergantung pada org itu, apakah bahan2 memiliki kompatibiltas dg tubuhnya, bagaimana hasil pencernaannya setelah melalui fase pencampuran dg berbagai enzyma n dikelola oleh sang bacteria usus.
Makanan yg kemudian menaikan polinamin merupakan makanan yg tdk bermanfaat bagi tubuh itu n perlu dihindari karena justru membuat bertambahnya pemblokiran terhadap bahan2 lain yg seharusnya bisa di gunakan atau dimanfaatkan oleh tubuh dg baik.
Pemblokiran yg berkala akan menimbulkan devisiensi terhadap bahan2 yg kemudian menjadikanya suatu gangguan fungsi organ.
Maka menulusuri kompatibiltas adalah langkah pertama dg mengeliminir sebanyak mungkin error food, n kemudian disempurnakan dg hanya menggunakan performance food sebagai bahan utama.
Utk hal yg ini anda perlu melatih dg mengenal lebih jauh n dalam apa yg baik buat tubuh anda n apa yg tdk berguna.
Salam,