Membaca tentang TTL, maka asosiais kita akan menuju pada makann yg lezat dg berbagai kendala Gizi yg disebut, n pastilah murah harganya.
Oseng2 Tempeh misalnya, menjadi lauk berharga Rp500 atau Rp 1000 demikian juga dg Tahu n Lontong.
Kalau di Jawa, ada Lontong cap go meh yg isinya lengkap sudah bisa menggoyang lidah dg sayur lodeh, tempenya sabel goreng, opor ayam n barangkali sambel goreng hati.
Nah mari kita tinjau produk TTL ini.
Seperti pernah di dijabarkan disini, tempe n tahu perlu dilihat reaksi tubuh masing2 apakah diterima atau ditolak, disamping kendala genetik yg gampangnya disebutkan saja bahwa selain gol darah A, yg lain sebaiknya berhati2 dg bahan dasar ini mengingat produk antigen, phyto estrogen n rekayasa genetik atau GMO pada kedelenya sebagai bahan baku.
Tetapi hal ini bukan yg hendak saya angkat disini dalam tulisan kali ini tetapi wadah pengerjaanya yg hendak saya sorot demi kesehatan tubuh kita.
Ketika masih kanak2, saya didepan rumah melihat ada org membawa bakul yg terbuat dari anyaman bambu, lalu ia membuka pakaiannya, n masuk kedalam selokan didepan rumah yg saya tinggal ketika masih di Jember.
Ia kemudian sambil mandi memasukan keranjang yg ternyata berisi kacang kedele kedalam air selokan yg mengalir n terlihat bersih ia mencuci kacang tadi utk dijadikan tahu maupun tempe secara tradisional.
Meski memasak dg gentong maupun wadah yg terbuat dari seng yg dilapisi timah utk menjadikan kedele sebagai kacang emulsi dlm membentuk tahu, tetapi kemudian tahu dicetak di wadah kayu n anyaman dari bambu, jadi barangkali kontaminant timah dlm air tdk terlalu memberatkan n masuk kedalm kacng yg akan dijadikan tahu atau tempe tersebut.
Kini semua berubah, saya tdk tau apakah system itu masih ada atau semua tahu menjadi industry yg dikelola dg tempat plastik baik utk mengaduk adonan maupun utk dicetak, tetapi yg jelas kacang nya masih dlm kedaan yg sangat panas ketika ditempatkan di wadah2 plastik tersebut.
Lain Tahu lain pula tempeh, dg proses fermentasi kacang, terjadilah panas yg cukup tinggi bahkan kalau kita bungkus telor didlamnya, akan matanglah sang telor.
Kini pembungkus tempeh bukan lagi daun pisang melainkan plastik kantong yg membuat tempeh bisa dibentuk rapih n tdk menghitam.
Kaget melihat lontong berbaris rapih di etalase pembuat ketoprak, lontong cap gomeh dllnya yg semuanya di bungkus n di masak dlm kantong plastik juga.
Maka, pertanyaanya apakah plastik ini aman utk di jadikan bahan2 pembentuk TTL?
Tidak, semua plastik tdk aman utk dikonsumsi.
Masalahnya adalah semua proses TTL bersinggungan dg temperatur yg kemudian membuat sang plastik mengeluarkan kandungan Phthalate yg dalam rumusan yg lebih dalam adalah di-(2-ethylhexyl)-phthalate (DEHP) yg ada pada setiap pembuatan plastik n kemasan plastik termasuk steorofoam, sehingga manjadikan nya tdk aman utk ikut dimakan.
Apa yg terjadi bila dimakan?
http://content.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp?Aktion=ShowAbstract&ArtikelNr=14278&Ausgabe=225303&ProduktNr=224215induk binatang:
* Kenaikan berat badan pada tikus ginjal (kedua jenis kelamin)
* Kenaikan berat hati (jantan)
* Penurunan berat ovarium (betina)
* Penurunan berat badan tubuh (jantan)
* Penurunan kadar testosteron
* Peningkatan follicle stimulating hormone (FSH)
Pada keturunannya:
* Penurunan berat badan
* Penurunan anogenital jarak (AGD), atau jarak dari kelamin tuberkulum ke anus, pada pria
* Peningkatan AGD pada wanita
* Genital perkembangan janin laki-laki tertunda
* Makroskopik dan perubahan mikroskopis testis pada laki-laki
* Menurunnya konsentrasi serum testosteron pada laki-laki
Jadi apakah ini penyebab kelainan genetik yg sering sekali terjadi dinegri ini seperti lahir dempet, bibir sumbing, tanpa kelamin, tanpa dubur, dstnya?
Bagaimanakah pembelajaran masyarakat ttg bentuk pengolahan bahan makanan bagi manusia yg hidup di negri ini agar terhindar dari berbagai anomali yg semakin hari semakin hampir menjadi biasa? (perubahan bentuk payudara yg tdk simemtris, melesak dlsbnya; cancer yg tdk hanya dimiliki oleh org berada tetapi sdh turun kedesa?; meningkatnya sikap n kelakuan pria yg kewanitaan?, dstnya)
Jadi apakah kesadaran akan kesehatan demikian menurunnya, ataukah pola konsumen dg bahan murah tanpa memikirkan resiko kehidupan menjadi trent produsen?
Semuanya saya tdk tau.
Saya hanya ingin menyampaikan agar kita bisa mulai dari lingkungan kita sendiri utk menanggulangi kesehatan tubuh kita sendiri, n dg demikian akan menyebar menuju Indonesia sehat.
Sallam,